SEKILAS INFO
Sekilas Info
*Selamat datang di website baru kami, nikmati segala kemudahan dalam pencarian informasi yang kami sajikan.
KINI DIMINATI EKSPATRIAT JEPANG DAN SINGAPURA
Responsive image
umum UMKM

Ulap Doyo yang Terus Dikenal, helai dari tenun Ulap Doyo menyimpan keunikan. Motif yang indah pun memberikan nuansa eksklusif. Menarik mata para ekspatriat.

TEKAD Bupati Kukar Rita Widyasari mengenalkan kain tenun Ulap Doyo terus berlanjut. Baru-baru ini, Sekretaris Jenderal Dewan Kerajinan Nasional Myra E Widiono, mengatakan bahwa helai kain dari Kukar ini memiliki keunikan. Diminati berbagai kalangan termasuk ekspatriat. “Paling utama yaitu Jepang dan Singapura,” katanya, beberapa waktu lalu. Ketertarikan kedua negara kepada Ulap Doyo tidak hanya karena motif yang cantik. Ada ekslusivitas dari kain ini.

Kain Ulap Doyo dibuat oleh perempuan dari suku Dayak Benuaq di Kukar dan Kubar. Namun, sayangnya, perajin tenun Ulap Doyo berangsur-angsur menghilang. Di Kukar, tersisa satu orang yang tinggal di Jalan Mangkuraja, Tenggarong. Meski demikian, hal tersebut tak menyurutkan niat Bupati Kukar mengenalkan Ulap Doyo ke dunia. Banyak cara seperti mengadakan peragaan busana berbahan dasar Ulap Doyo hasil rancangan desainer terkenal, Devrico Audy dan Ian Adrian. Acara diadakan di Ajang Fashion & Food Festival (JFFF) 2011 lalu di Jakarta. Saat itu, Rita turun ke catwalk layaknya peragawati.

“Semua saya lakukan demi Kukar,” terang Rita kepada media ini, kemarin (2/9). Saat ini, katanya, Ulap Doyo diminati kalangan di Jepang dan Singapura karena unik. “Saya berharap semangat para perajin untuk terus berkarya bertambah sehingga kain ini lestari,” tuturnya. Saat mengunjungi perajin tenun Ulap Doyo, kain ini digunakan untuk pakaian adat dan tari-tarian. Kini sudah dikreasikan sebagai bahan utama pembuatan tas dan lain-lain. Berbeda dengan hasil kerajinan tenun ikat yang lain di Indonesia, Ulap Doyo memiliki ciri tersendiri. Motif maupun sistem ikat tenun dan bahan baku berbeda. Serat benang khusus dibuat dari daun tanaman doyo (Curcoliga latifalia lend). Secara fisik, pohon doyo sekilas serupa pohon kelapa namun masih tunas. Hanya pelepah dan helai daun.

"Selama ini, kami mengambil daun doyo dari hutan. Dulu pernah dikembangkan secara khusus dibantu pemerintah setempat, tapi karena dilanda kemarau dan terbakar, sekarang kami hanya menggantungkan daun Doyo dari alam yang banyak tumbuh di hutan Kukar maupun Kubar," jelas Jamnah, ibu rumah tangga yang juga perajin tenun Ulap Doyo. Aktivitas tenun ikat Ulap Doyo serangkai dengan kerajinan Dayak Benuaq yang lain yakni Badong Tencip dan Sulam Tumpar. Selama ini, lebih banyak dilakoni ibu rumah tangga dari Dayak Benuaq sebagai tambahan setelah bertani atau berkebun karet. (dt-b0y)

sumber : Kaltim Post

Artikel Terkait
Tinggalkan Komentar

Email anda tidak akan dipublikasikan. Isi masukan dengan tanda *


SARAN

Masukan saran anda

STATISTIK PENGUNJUNG
Pengunjung hari ini : 27
Hits hari ini : 138
Total pengunjung : 44309
Total Hits : 814781
HUBUNGI KAMI
Jl. Basuki Rahmat No. 55 Kode Pos 75117.
Kotak Pos 1049.
SAMARINDA
E-mail : indagkop.kaltim@gmail.com
Telp (0541) 742482 - 206335 Fax (0541) 742495.
© Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi & UMKM Provinsi Kalimantan Timur - 2015